Ketika Santri Belajar Jurnalistik |

in INDONESIA2 months ago (edited)

Misbahul Ulum_02.jpg


“Apa yang dimaksud dengan diklat?”

Itu salah satu pertanyaan santri Pesantren Modern Misbahul Ulum, Paloh, Lhokseumawe, ketika mengikuti pelatihan jurnalistik dasar di Masjid Al Hasyimiyah, 5-6 September 2020. Mereka berani bertanya bahkan terhadap akronim yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga orang banyak.

Pemateri dari Universitas Malikussaleh, Ayi Jufridar, tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan tersebut. Ketika dilemparkan kembali kepada peserta, sejumlah santriwati langsung menyambar; “Pendidikan dan pelatihan!”


4bf1a0e6-2c47-405d-a81f-7382c45487e8.JPG


Ayi Jufridar kemudian menjelaskan bahwa diklat masuk dalam akronim baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seraya memperlihatkan aplikasinya di gadget. Tentu saja para santri tidak bisa memastikannya karena mereka dilarang menggunakan gadget.

Banyak pertanyaan lain yang penuh kejutan disampaikan para santri, misalnya tentang nilai-nilai berita. Seorang santriwati menyebutkan banyak kejadian di sekitarnya dan bagaimana memilihnya menjadi sebuah berita yang layak tayang. Ada juga yang bertanya tentang jalan menjadi seorang wartawan.


5c493fd5-afff-40b1-92df-12d12f27a5d9.JPG


8c09dc2e-ea81-4dd8-984e-0f7262fd2daf.JPG


Tidak semua pernyataan tentang jurnalistik, malah banyak pertanyaan tentang menulis novel. Jenis pertanyaan mulai dari sumber ide menulis, teknik penulisan, sampai terhadap genre dalam karya fiksi. “Banyak cara menjadi seorang novelis? Apa saja yang harus saya lakukan?” tanya seorang santriwati.

Tenaga pengajar di Pesantren Modern Misbahul Ulum, Tgk Juwanda MPd, mengatakan ada 215 yang mengikuti pelatihan jurnalistik tersebut. Banyak dari mereka, terutama yang santriwati, memiliki minat dalam menulis karya sastra. “Makanya ke depan, kami juga akan menggelar pelatihan menulis sastra,” ungkap Tgk Juwanda.

Banyaknya pertanyaan membuat pelatihan tersebut belum berakhir meski jam sudah menunjukkan pukul 00.05. Ketika malam semakin beranjak tua, pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir. “Kalau tidak saya batasi, mungkin sampai pagi belum selesai,” ungkap Ayi Jufridar.


IMG_5948.jpg


IMG_5950.jpg


Misbahul Ulum_01.jpg


Setelah diskusi berakhir, para santriwati ingin mendapatkan pesan khusus dari pemateri yang ditulis dalam buku catatan mereka. “Pesan khusus ini menjadi motivasi kami dalam menulis,” ujar Mayang.

Pimpinan Pesantren Modern Misbahul Ulum, KH Dr Hamdani Khalifah MA, menyebutkan mempelajari ilmu jurnalistik tidak cukup satu atau dua hari.

“Kami dulu belajar jurnalistik sampai beberapa semester. Tapi anak-anak belajar satu malam esoknya langsung ujian,” ujar KH Hamdani ketika membuka kegiatan Diklat Jurnalistik yang berlangsung di Masjid Al Hasyimiyah, Paloh, Lhokseumawe, Aceh.


Misbahul Ulum_03.jpg


KH Hamdani meminta peserta serius dan fokus mengikuti pelatihan karena mereka diberi tugas untuk menulis berita kegiatan tersebut. KH Hamdani juga meminta siswa bisa mengelola majalah dinding dengan informasi terbaru setiap hari. “Mereka memiliki mading dan website untuk melatih kemampuan menulis,” kata KH Hamdani.

Ayi Jufridar yang baru pertama kali mengajar jurnalistik di masjid tersebut mengaku senang melihat para pelajar tingkat SLTA tersebut sangat berani menanyakan banyak hal tentang menulis. "Mereka berani menyampaikan apa yang mereka ingin ketahui. Itu modal penting dalam dunia pendidikan, ujar Ayi Jufridar yang pernah menjadi wartawan di sejumlah media cetak dan elektronik. []

d6aeba1f-d5de-4864-a725-07b4df6bc4c6.JPG

Sort:  

luar biasa bang ayi bagi ilmu jurnalistik. semoga jurnalistik aceh banyak yang lahir dari mereka

Minimal sekali, muncul generasi muda yang lebih bijak dan cerdas dalam memahami pemberitaan berita di media. Jangan terpengaruh dengan hoaks.